Di tengah maraknya diskusi tentang pengasuhan anak, istilah Parenting VOC menjadi topik yang hangat diperbincangkan. Istilah ini tidak merujuk pada metode pengasuhan resmi, melainkan metafora yang menggambarkan gaya pengasuhan keras dan otoriter—mirip dengan cara kolonial VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie) memperlakukan masyarakat jajahannya. Istilah ini pertama kali diperkenalkan oleh seorang konten kreator bernama Jenni Lim alias Mamak Malvin, yang menyindir metode pengasuhan keras dan tak bisa ditawar.
Parenting VOC merupakan gaya pengasuhan yang menekankan kedisiplinan tinggi, aturan kaku, dan otoritas penuh di tangan orang tua. Dalam pendekatan ini, orang tua berperan sebagai pemegang kekuasaan mutlak atas anak-anak mereka, tanpa banyak ruang untuk dialog atau kompromi. Anak dituntut patuh tanpa banyak bertanya, dan hukuman dianggap sebagai alat utama untuk membentuk perilaku.
Pola ini sering kali lahir dari keinginan orang tua untuk membentuk anak yang disiplin, kuat, dan tahan banting. Namun, pendekatan ini juga menuai kritik karena dianggap mengabaikan kebutuhan emosional dan psikologis anak.
Orang tua dengan pendekatan ini menetapkan aturan dengan tegas dan tidak memberikan ruang bagi anak untuk berargumen. Apapun yang dikatakan orang tua harus dilakukan tanpa pertanyaan.
Salah satu ciri utama parenting VOC adalah penggunaan hukuman sebagai sarana koreksi perilaku. Daripada menjelaskan kesalahan dan memberikan pemahaman, orang tua langsung memberikan sanksi fisik maupun verbal.
Dalam pola asuh ini, suara anak tidak dianggap penting. Segala keputusan besar maupun kecil diambil oleh orang tua tanpa melibatkan anak, yang berdampak pada rendahnya rasa percaya diri anak.
Parenting VOC bukan tanpa pembela. Beberapa orang tua justru melihat pendekatan ini sebagai solusi untuk mendisiplinkan anak sejak dini. Namun, sisi lainnya justru menunjukkan risiko jangka panjang pada perkembangan emosional dan sosial anak.
Parenting VOC sering dibandingkan dengan gaya lain seperti gentle parenting dan authoritative parenting. Gentle parenting menekankan pada pendekatan yang penuh empati, komunikasi terbuka, dan pemahaman emosional. Sementara authoritative parenting menggabungkan disiplin dengan kasih sayang dan pengakuan terhadap suara anak.
Dibandingkan dengan dua pendekatan tersebut, parenting VOC cenderung lebih ekstrem karena tidak memberi ruang fleksibilitas atau dialog. Meski memiliki keunggulan dalam menciptakan struktur dan ketertiban, parenting VOC bisa berbahaya jika diterapkan tanpa memperhatikan kondisi psikologis anak.
Anak-anak yang tumbuh dalam lingkungan otoriter biasanya terbiasa diperintah. Mereka lebih banyak mengikuti instruksi ketimbang mengeksplorasi logika atau ide sendiri.
Karena terbiasa menuruti perintah tanpa pertanyaan, anak menjadi sulit menghadapi situasi yang membutuhkan kemampuan bernegosiasi atau kompromi.
Dalam jangka panjang, anak bisa mengalami stres berkepanjangan, kecemasan sosial, hingga gangguan identitas diri. Ketakutan akan kegagalan dan kritik juga sering muncul sebagai akibat dari pendekatan ini.
Alih-alih menerapkan parenting VOC secara penuh, orang tua sebaiknya menyeimbangkan pendekatan disiplin dengan komunikasi yang terbuka. Beberapa prinsip yang bisa diterapkan antara lain:
Parenting VOC adalah pendekatan pengasuhan yang menekankan kedisiplinan dan otoritas penuh dari orang tua. Meski memiliki beberapa kelebihan, terutama dalam membentuk kedisiplinan, pola ini juga memiliki risiko besar terhadap perkembangan emosional anak. Oleh karena itu, penting bagi orang tua untuk menilai kebutuhan anak secara individu dan menerapkan pola asuh yang seimbang—yang tidak hanya membentuk anak disiplin, tetapi juga tangguh secara mental dan sosial.
Baca Juga: Berapa Lama Pacaran Ideal Sebelum Menikah? Begini Penjelasannya!